Sabtu, 16 Juli 2011

Keragaman Kupu-kupu (Lepidoptera: Ditrysia) Di Kawasan ”Hutan Koridor” Taman Nasional Gunung Halimun-Salak Jawa Barat

Keragaman Kupu-kupu (Lepidoptera: Ditrysia)
Di Kawasan ”Hutan Koridor”
Taman Nasional Gunung Halimun-Salak
Jawa Barat

Muhammad Ali Efendi, Rika Raffiudin, dan Tri Atmowidi

PENDAHULUAN
Kupu-kupu memiliki nilai penting dalam pertanian, yaitu sebagai penyerbuk (pollinator) (Amir et al 2003), karena kupu-kupu aktif mengunjungi bunga (Joshi & Arya 2007). Kupu-kupu polinator secara ekologis berperan dalam mempertahankan keseimbangan ekosistem dan memperkaya keragaman hayati. Selain sebagai polinator, kupu-kupu dapat digunakan dalam evaluasi kualitas lingkungan (Kremen 1992; Sreekumar & Balakrishnan 2001) dan indikator perubahan habitat (Pollard 1992).
Kupu-kupu sangat bergantung pada keragaman tanaman inang, sehingga memberikan hubungan yang erat antara keragaman kupu-kupu dengan kondisi habitatnya. Kupu-kupu sangat sensitif terhadap perubahan kondisi habitatnya, terutama struktur tumbuhan. Subfamili Satyrinae sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan (Murphy et al. 1990; Kremen 1992; Scoble 1995).
Keragaman kupu-kupu dipengaruhi oleh penyebaran dan kelimpahan tumbuhan inang (host plant) (Cleary & Genner 2004). Keragaman kupu-kupu makin menurun dengan menurunnya keragaman tumbuhan inang. Menurunnya keragaman tumbuhan inang dapat terjadi karena adanya kerusakan habitat. Kerusakan habitat terjadi karena aktivitas manusia dalam mengkonversi habitat alami. Selain itu, keragaman kupu-kupu dipengaruhi oleh ketinggian (altitude), suhu, kelembaban, intensitas cahaya, cuaca, musim, volume, dan nektar tumbuhan (Rizal 2007). Nektar merupakan sumber energi kupu-kupu dewasa (Barth 1991).
Pada saat ini, kawasan TNGH-S mengalami degradasi sumberdaya alam dan lingkungan yang serius. Degradasi sumberdaya alam dapat dilihat dari berkurangnya penutupan hutan (deforestasi). Pada kurun waktu tahun 1989 – 2004, telah terjadi deforestasi 25 % atau berkurang 22 ribu hektar dengan laju kerusakan rata-rata 1.3 % per tahun (Dephut 2008). Deforestasi mengancam keberadaan kehidupan makhluk hidup, termasuk keberadaan kupu-kupu (Rizal 2007).
Kurniawan et al. (2000) melaporkan, di Gunung Kendeng dan Gunung Botol TNGH-S ditemukan lima famili kupu-kupu. Kupu-kupu Papilio lampsacus dilaporkan telah punah. Kepunahan spesies tersebut disebabkan adanya eksploitasi sumberdaya alam, kerusakan habitat (Amir et al. 2003; Suharto et al. 2005) dan eksplorasi keberadaan kupu-kupu meningkat. Eksplorasi meningkat karena kupu-kupu memiliki warna, corak, dan bentuk sayap yang bervariasi. Sehingga kupu-kupu menjadi komoditas menarik bagi peneliti, kolektor, dan dunia perdagangan (Amir et al. 2003). Akibatnya kelestarian kupu-kupu terancam (Amir et al. 2003).
“Hutan koridor” Gunung Kendeng merupakan hutan yang menghubungkan hutan Gunung Halimun dengan hutan Gunung Salak (Gunawan 2004). Hutan koridor memiliki potensi biologis maupun ekologis bagi wilayah di sekitarnya (Hartono et al. 2007). Hutan koridor TNGH-S relatif alami yang berfungsi sebagai habitat, pergerakan, dan tempat mencari makan satwa liar. Pada saat ini, hutan koridor TNGH-S terfragmentasi karena aktivitas masyarakat, infrastruktur bangunan, prasarana jalan, lahan pertanian, penebangan liar, dan pembukaan lahan. Aktifitas masyarakat di sekitar hutan koridor mengakibatkan kerusakan hutan (Gunawan 2004). Cahyadi (2002) melaporkan bahwa dalam 11 tahun, hutan koridor mengalami kerusakan sekitar 347 523 ha. Total area hutan tahun 1990 adalah 666 508 ha dan menurun menjadi 318 985 ha di tahun 2001. Lebar hutan koridor tahun 1990 adalah 1.4 km menjadi 0.7 km di tahun 2001.
Di bagian utara hutan koridor terdapat PT. Perkebunan Nusantara (PTPN) VIII Cianten dan sebelah selatan terdapat lahan pertanian yang berbatasan langsung dengan hutan koridor. Meningkatnya aktivitas bertani dan berkebun di sekitar hutan koridor menambah kerusakan habitat.
Data keragaman kupu-kupu di kawasan hutan koridor TNGH-S belum pernah dilaporkan. Jadi perlu digali lebih lanjut mengenai keragaman kupu-kupu di hutan koridor. Penelitian ini difokuskan pada keragaman kupu-kupu di kawasan “hutan koridor”, di lahan pertanian, dan perkebunan teh. Informasi yang diperoleh diharapkan dapat memberikan gambaran “hutan koridor” TNGH-S berdasarkan data keragaman kupu-kupu dan dapat digunakan sebagai dasar konservasi kupu-kupu beserta habitatnya.

BAHAN DAN METODE
Tempat
Penelitian ini dilakukan di tiga tipe habitat, yaitu “hutan koridor” (A), lahan pertanian (B), dan perkebunan teh di PT. Perkebunan Nusantara (PTPN) VIII (C). Lokasi penelitian terletak di Desa Cipeuteuy Kec. Kabandungan, Kab. Sukabumi dan Desa Purwabakti, Cianten, Kabupaten Bogor (Gambar 5). Secara geografis lokasi penelitian berada pada koordinat 106035’30” - 106037’30” BT dan 6044’00” – 6046’30” LS.

Gambar 1 Peta lokasi penelitian: “hutan koridor” (A), lahan pertanian (B), dan perkebunan teh PT. Perkebunan Nusantara (PTPN) VIII (C)

Pengamatan Keragaman Kupu-Kupu dan Faktor Lingkungan
Pengamatan keragaman kupu-kupu meliputi jumlah spesies dan individu dilakukan dari Maret sampai Agustus 2008. Pengamatan keragaman kupu-kupu menggunakan metode scan sampling (Martin & Bateson 1993) yang dilakukan pukul 07.00-11.00 dan 13.00-16.0 WIB. Pengukuran parameter lingkungan (kelembaban udara (%), suhu udara (0C), intensitas cahaya (lux), dan ketinggian tempat (m dpl)) dilakukan setiap ditemukan kupu-kupu. Pengukuran kelembaban dan suhu lingkungan digunakan alat Thermo-hygrometer in/out merk Corona Model GL-89, intensitas cahaya menggunakan luxmeter, sedangkan pengukuran ketinggian menggunakan altimeter.
Setiap bulan dilakukan tiga kali pengamatan dengan rute yang berbeda. Setiap rute dengan panjang + 3 km (Tabel 1). Pada setiap tipe habitat dilakukan pengamatan sebanyak 18 hari, sehingga total pengamatan adalah 54 hari. Setiap spesies kupu-kupu yang berbeda, dikoleksi dengan jaring serangga untuk kepentingan identifikasi.

Tabel 1 Rute pengamatan keragaman kupu-kupu di “hutan koridor” TNGH-S

Preservasi dan Identifikasi Kupu-Kupu

Preservasi spesimen kupu-kupu dilakukan agar spesimen tidak mengalami pembusukan yaitu dengan menyuntik ethanol 70% pada bagian ventral tubuhnya (Triplehorn & Johnson 2005). Spesimen kupu-kupu dimasukkan dalam kertas papilot agar tidak rusak.
Identifikasi dan verifikasi spesimen dilakukan di Bagian Sistematik dan Ekologi Hewan, Departemen Biologi, FMIPA IPB dan di Laboratorium Entomologi, Puslitbang Biologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Cibinong. Spesimen diidentifikasi berdasarkan Maruyama (1991), Tsukada (1985), Tsukada dan Nishiyana (1982) dan Tsukada (1991). Empat spesimen kupu-kupu diidentifikasi dan diverifikasi dengan melakukan korespodensi dengan Dr. John Tennet dari Department of Entomology, The Natural History Museum London dan Dr. Torben Larson dari Zoologisk Museum The Natural History Museum of Denmark. Spesimen kupu-kupu disimpan di Bagian Biosistematik dan Ekologi Hewan, Departemen Biologi, FMIPA, Institut Pertanian Bogor.

Pengukuran Volume Nektar

Pengukuran volume nektar tumbuhan yang dominan dilakukan setiap bulan dengan lima kali ulangan yaitu, pukul 07.00, 09.00, 11.00, dan 14.00 WIB. Tumbuhan yang diukur volume nektarnya adalah di hutan koridor: Impatiens platypetala Lindl., Triumfetta rhomboidea, Calliandra calothyrsus, Aeschynanthus pulcher; di lahan pertanian: Impatiens platypetala Lindl., Ipomoea batata, dan di perkebunan teh: Tea sinensis. Volume nektar diukur menggunakan mikropipet 0.1 ┬Ál (Drummond Microcaps®) (Comba et al. 1999; Heil et al. 2000; Corbet 2003; Wolff 2006). Pengukuran volume nektar dilakukan dengan memasukkan mikropipet ke dalam mahkota bunga sampai bagian dasar (Comba et al. 1999; Wist & Davis 2005). Setiap pengambilan nektar digunakan mikropipet yang baru (Corbet 2003).

Identifikasi Spesies Tumbuhan

Identifikasi tumbuhan dilakukan dengan cara menanyakan langsung nama lokal tumbuhan kepada penduduk dan staf Balai TNGH-S dan diidentifikasi berdasarkan Harada et al. (2006). Satu spesies tumbuhan diidentifikasi dan diverifikasi dengan melakukan korespodensi dengan Dr. Clyde Imada, Research Specialis Department of Natural Sciences/Botany, Bishop Museum Honolulu, USA.

Analisis
Analisis keragaman kupu-kupu yang meliputi indeks keragaman Shannon (H’) dan indeks kemerataan Pielou’s (J’) menggunakan program Primer e-5. Hubungan antara spesies kupu-kupu dengan volume nektar dan faktor lingkungan digambarkan dengan scatter plot dan dianalisis dengan Principal Component Analysis (PCA) dengan Program R.2.5.1. Kesamaan kupu-kupu antar tipe habitat dianalisis dengan indeks kesamaan Jaccard (Cj) dan Sorensen (Cs) (Magurran 1988).

Rumus-rumus yang digunakan adalah:

H׳: indeks keragaman Shannon; pi: proporsi kelimpahan spesies ke-i (ni/N);

E= kemerataan (evenness); S=jumlah spesies;


Cj: indeks kesamaan Jaccard; j: jumlah spesies yang ditemukan di kedua lokasi pengamatan; a: jumlah spesies yang di lokasi a; b: jumlah spesies yang ditemukan di lokasi b.



Cs: indeks kesamaan Sorensen; N=jumlah individu.

Korelasi antara faktor lingkungan dengan jumlah spesies, individu dan indeks keragaman kupu-kupu dengan faktor lingkungan dianalisis dengan korelasi Pearson dengan menggunakan program SPSS 11.0 for windows. Estimasi jumlah individu kupu-kupu yang diperoleh dalam penelitian ini dengan jumlah individu yang ada di alam dianalisis dengan program EstimateS Win. 7.52.

HASIL

Keragaman Kupu-Kupu
Dalam penelitian ini diamati tujuh famili, 61 spesies dan 7 032 individu kupu-kupu. Total spesies dan individu masing-masing famili, adalah sebagai berikut: Amathusidae (satu spesies, satu individu), Hesperiidae (empat spesies, 670 individu), Lycaenidae (31 spesies, 3440 individu), Nymphalidae (tujuh spesies, 517 individu), Papilionidae (10 spesies, 632 individu), Pieridae (tujuh spesies, 1764 individu), dan Riodinidae (satu spesies, delapan individu) (Tabel 2).
Di hutan koridor, jumlah spesies dan individu masing-masing famili adalah sebagai berikut: Amathusidae (satu spesies, satu individu), Hesperiidae (tiga spesies, 188 individu), Lycaenidae (lima spesies, 177 individu), Nymphalidae (27 spesies, 1378 individu), Papilionidae (sembilan spesies, 218 individu), Pieridae (tujuh spesies, 699 individu) dan Riodinidae (satu spesies, tiga individu). Di lahan pertanian ditemukan enam famili yaitu Hesperiidae (empat spesies, 298 individu), Lycaenidae (lima spesies, 312 individu), Nymphalidae (25 spesies, 1315 individu), Papilionidae (10 spesies, 228 individu), Pieridae (enam spesies, 635 individu) dan Riodinidae (satu spesies, lima individu). Sedangkan di perkebunan teh ditemukan lima famili, yaitu Hesperiidae (dua spesies, 184 individu), Lycaenidae (tiga spesies, 28 individu), Nymphalidae (20 spesies, 747 individu), Papilionidae (delapan spesies, 186 individu), dan Pieridae (enam spesies, 430 individu) (Tabel 2).

Tabel 2 Jumlah famili, spesies, indeks keragaman dan kemerataan kupu-kupu di kawasan hutan koridor TNGH-S

Spesies kupu-kupu ditemukan dominan di tiga habitat secara berturut-turut adalah Ypthima sp. (Nymphalidae), Eurema sp. (Pieridae) dan Delias belisama (Pieridae) dengan presentase masing-masing 26.95, 14.87, dan 7.41%. Sedangkan spesies kupu-kupu dengan frekuensi rendah dan hanya ditemukan di hutan koridor adalah Thaumantis klugius Zinken (Amathusidae) 0.01%, Zeltus amasa Hewitson (Lycaenidae) 0.01%, Cirrochroa clagia 0.03%, Euploea diocletianus 0.04%, Euthalia adonia 0.04%, J. hedonia, (Nymphalidae) 0.01%. Spesies yang hanya ditemukan di lahan pertanian adalah Erionota thrax Linn. (Hesperiidae) 0.03%, Zizina otis (Lycaenidae) 0.10%, H. misippus Linn. (Nymphalidae) 0.03%. Sedangkan spesies yang hanya ditemukan di perkebunan teh adalah Heliophorus kiana (Lycaenidae) 0.01% .
Indeks keragaman Shannon (H’) kupu-kupu di hutan koridor, lahan pertanian, dan perkebunan teh berturut-turut sebesar 2.76, 2.79, dan 2.31. Keragaman kupu-kupu di hutan koridor, lahan pertanian dan perkebunan teh masuk dalam kategori sedang (1 Nilai kemerataan Shannon (E) spesies kupu-kupu di hutan koridor, lahan pertanian dan perkebunan teh berturut-turut sebesar 0.69, 0.71 dan 0.63. Hal ini berarti kemerataan spesies kupu-kupu di hutan koridor, lahan pertanian dan perkebunan teh termasuk tinggi (E1). Semakin besar nilai kemerataan spesies kupu-kupu, maka penyebaran spesies kupu-kupu merata dan tidak ditemukan pada dominasi oleh spesies kupu-kupu tertentu.
Kesamaan Jaccard (Cj) antara hutan koridor-lahan pertanian, hutan koridor-perkebunan teh, dan lahan pertanian-perkebunan teh berturut-turut adalah 0.76, 0.61, dan 0.64. Sedangkan indeks kesamaan Sorensen (Cs) antara hutan koridor-lahan pertanian, hutan koridor-perkebunan teh, dan lahan pertanian-perkebunan teh berturut-turut adalah 0.85, 0.80, dan 0.78 (Tabel 3).

Tabel 3 Kesamaan kupu-kupu antar habitat berdasarkan indeks kesamaan Jaccard dan Sorensen
Dengan software Estimate’s Win. 7.52, nilai estimasi kupu-kupu yang berhasil dikoleksi di hutan koridor, lahan pertanian, dan perkebunan teh masing-masing sebesar 94.51%, 97.61, dan 85.88% (Tabel 4). Nilai estimasi jumlah kupu-kupu yang dikoleksi secara total dari hutan koridor, lahan pertanian, dan perkebunan teh sebesar 95,69%.

Tabel 4 Nilai estimasi jumlah kupu-kupu yang dikoleksi dari hutan koridor, lahan pertanian, dan perkebunan teh berdasarkan analisis dengan software Estimate’s Win. 7.52

C. Keragaman Kupu-Kupu Berdasarkan Waktu Pengamatan dan Faktor Lingkungan

Jumlah spesies kupu-kupu tertinggi di hutan koridor (43 spesies) ditemukan pada pukul 09.00-09.59, di lahan pertanian (42 spesies) ditemukan pukul 10.00-10.59, dan di perkebunan teh (24 spesies) pukul 09.00-09.59, 10.00-10.59 dan 13.00-13.59. Jumlah spesies tertinggi (36 spesies) dan terendah (18.33 spesies) secara berturut-turut ditemukan pukul 10.00-10.59 dan 07.00-07.59 (Gambar 2).
Berdasarkan jumlah individu, di hutan koridor jumlah individu tertinggi (698 individu) ditemukan pukul 13.00-13.59, di lahan pertanian (628 individu) pukul 10.00-10.59, dan di perkebunan teh (504 individu) pukul 13.00-13.59. Jumlah individu tertinggi (504 individu) dan terendah (190.33 individu) secara berturut-turut ditemukan pukul 13.00-13.59 dan 15.00-15.59 (Gambar 14).
Indeks keragaman kupu-kupu tertinggi di hutan koridor, lahan pertanian, dan perkebunan teh ditemukan pukul 09.00-09.59, yaitu berturut-turut sebesar 2.817, 2.929, dan 2.583. Rata-rata indeks keragaman tertinggi (H’=2.78) dan terendah (H’=1.66) secara berturut-turut pukul 09.00-09.59 dan 07.00-07.59. Indeks keragaman kupu-kupu di hutan koridor TNGH-S tergolong sedang (1
Gambar 2 Jumlah spesies (a), jumlah individu (b), dan indeks keragaman kupu-kupu (c) berdasarkan waktu pengamatan. KOR: hutan koridor, TAN; lahan pertanian, TEH: perkebunan teh dan Rata-Rata: rata-rata kupu-kupu di tiga tipe habitat.

Berdasarkan bulan pengamatan, jumlah spesies kupu-kupu di hutan koridor terbanyak (38 spesies) ditemukan pada pada bulan Juni, lahan pertanian (36 spesies) bulan Juli, dan perkebunan teh (26 spesies) bulan Mei dan Juli. Jumlah spesies tertinggi (30.33) dan terendah (22 spesies) berturut-turut ditemukan pada pada bulan Mei dan Maret (Gambar 3).
Jumlah individu terbanyak (540 individu) di hutan koridor ditemukan pada bulan Mei, di lahan pertanian (677 individu) bulan Maret, dan di perkebunan teh (341 individu) bulan Juni. Jumlah individu terbanyak (458.33 individu) dan terendah (229.67 individu) secara berturut-turut pada bulan Mei dan terendah bulan Agustus.
Keragaman kupu-kupu tertinggi di hutan koridor (H’=2.91) ditemukan pada pada bulan Juni, lahan pertanian pada (H’=2.84) bulan Juli, dan perkebunan teh (2.29) pada bulan April. Indeks keragaman kupu-kupu tertinggi (H’=2.67) dan terendah (H’=2.03) secara berturut-turut ditemukan pada bulan Juli dan Maret.

Gambar 3 Jumlah spesies (a), jumlah individu (b), dan indeks keragaman kupu-kupu (c) berdasarkan bulan pengamatan. KOR: hutan koridor, TAN: lahan pertanian, dan TEH: perkebunan teh.

Keragaman kupu-kupu di hutan koridor, lahan pertanian, dan perkebunan teh tertinggi ditemukan pukul 09.00.00-09.59 dengan indeks keragaman berturut-turut sebesar 2.82, 2.93, dan 2.58. Rata-rata intensitas cahaya, kelembaban, suhu, dan altitude di hutan koridor adalah 19272.49+0.07 lux, 60.52+0.08%, 24.94+0.09 oC, dan 1015.58+0.12 m dpl; di lahan pertanian adalah 23085.93+0.05 lux, 49.01+0.07%, 27.68+0.07oC, dan 785.02+0.11 m dpl; dan di perkebunan teh berturut-turut adalah 31311.92+0.04 lux, 46.41+0.06%, 27.45+0.06 0C, 906.00+0.09 m.dpl (Tabel 5).

Tabel 5 Indeks keragaman kupu-kupu dan nilai rata-rata faktor lingkungan pada kisaran waktu pengamatan di hutan koridor, lahan pertanian, dan perkebunan teh

Gambar 4 Hubungan antara jumlah individu kupu-kupu. IC: intensitas cahaya, SU: suhu udara, KU: kelembaban Udara, JmL: jumlah individu.

Tabel 6 Korelasi Pearson antara jumlah spesies dan individu dengan faktor lingkungan

D. Keragaman Kupu-Kupu dalam Kaitannya dengan Keragaman Tumbuhan dan Volume Nektar

Famili tumbuhan berbunga yang ditemukan di hutan koridor adalah Thymelaeaceae, Arecaceae, Asteraceae, Brassicaceae, Fabaceae, Zingiberaceae, Balsaminaceae, Verbenaceae, Poaceae, Smilaceae, Melastomataceae, Flacourtiaceae, Theaceae, Rubiaceae, Malvaceae, Amaranthaceae, dan Solanaceae. Di lahan pertanian famili tumbuhan yang ditemukan adalah Arecaceae, Moraceae, Asteraceae, Brassicaceae, Fabaceae, Solanaceae, Caricaceae, Zingiberaceae, Balsaminaceae, Convolvulaceae, Verbenaceae, Euphorbiaceae, Musaceae, Poaceae, Lauraceae, Smilaceae, Lamiaceae, Leguminosae, Melastomataceae, dan Asteraceae. Sedangkan famili tumbuhan yang ada di perkebunan teh diantaranya adalah Arecaceae, Moraceae, Asteraceae, Brassicaceae, Fabaceae, Theaceae, Caricaceae, Zingiberaceae, Balsaminaceae, Smilaceae, Euphorbiaceae, Verbenaceae, Musaceae, Poaceae, Lauraceae, Smilaceae, Melastomataceae, Amaranthaceae, dan Solanaceae. Spesies tumbuhan yang ditemukan di hutan koridor, lahan pertanian, dan perkebunan teh dapat dilihat pada Tabel 7.

Tabel 7 Spesies tumbuhan berbunga yang ditemukan di hutan koridor, lahan pertanian, dan perkebunan teh bulan Maret sampai Agustus 2008

Berdasarkan pengamatan, spesies tumbuhan yang sering dikunjungi oleh kupu-kupu di hutan koridor adalah puspa (Schima wallichii), babanjaran (Eupatorium inufolia), pacar tere (Impatiens platypetala Lindl.), Triumfetta rhomboidea, kaliandra (Calliandra calothyrsus), cente (Lantana camara), dan Aeschynanthus pulcher; di lahan pertanian, adalah pacar tere (Impatiens platypetala Lindl.), ketela rambat (Ipomoea batata), cente (Lantana camara), dan babanjaran (Eupatorium inufolia) dan di perkebunan teh adalah teh (Tea sinensis), babanjaran (Eupatorium inufolia), dan cente (Lantana camara).
Berdasarkan pengamatan, famili Myrsinaceae (Lantana camara) dan Asteraceae (Eupatorium inufolia) dikunjungi oleh Graphium sarpedon, Anotia genutia, Yphtima sp., Delias belisama dan Eurema sp. Sedangkan Theaceae (Schima wallichii) dikunjungi oleh Delias belisama dan Graphium sarpedon.
Spesies tumbuhan dominan dan diukur volume nektarnya adalah Impatiens platypetala Lindl., Triumfetta rhomboidea, Calliandra calothyrsus, Aeschynanthus pulcher (hutan koridor), Impatiens platypetala Lindl., Ipomoea batata (lahan pertanian), dan Tea sinensis (perkebunan teh). Pada umumnya nektar yang disekresikan oleh spesies tumbuhan tinggi pukul 07.00-09.00 dan menurun pukul 11.00 dan 14.00 WIB. Menurunnya sekresi nektar tidak diikuti oleh menurunnya keragaman kupu-kupu (Gambar 5).

Gambar 5 Volume nektar tumbuhan dominan dan indeks keragaman spesies kupu-kupu berdasarkan waktu pengamatan: hutan koridor (a), lahan pertanian (b), dan perkebunan teh (c).




PEMBAHASAN
A. Keragaman Kupu-Kupu

Pada penelitian ini diperoleh tujuh famili kupu-kupu, dimana Nymphalidae merupakan famili dengan jumlah individu yang paling banyak (Tabel 2). Nymphalidae dilaporkan dominan di beberapa lokasi, seperti di Taman Nasional Ujung Kulon (New et al. 1987), di Cagar Alam Ton Nga-Chang, Provinsi Songkhla, Thailand Selatan (Boonvanno et al. 2000); di Cagar Alam Sanctuary Aralam, India Selatan (Sreekumar & Balakhrisnani 2001); di TNGH-S (Amir et al. 2003), Hutan Gunung Slamet, Jawa Tengah (Widhiono 2004), Taman Nasional Itapua, Brasil (Marchiori & Romanowski 2006), di hutan lindung Himalaya Barat, India (Joshi & Arya 2007), di Minyambou, Cagar Alam Pegunungan Arfak, Manokwari, Papua Barat (Panjaitan 2008), dan di Kawasan Telaga Warna, Cisarua, Bogor (Sari 2008). Nymphalidae merupakan famili kupu-kupu yang mempunyai anggota yang paling besar dan penyebaran luas dibandingkan dengan lainnya (Rizal 2007). Nymphalidae ditemukan dalam jumlah besar dikarenakan pada lokasi penelitian terdapat tumbuhan yang mendukung kehidupannya, baik sebagai sumber pakan maupun tempat berlindung. Sumber pakan Nymphalidae adalah Annonaceae, Leguminoceae, dan Compositae (Peggy & Amir 2006). Perbedaan famili yang dominan yang ditemukan di beberapa daerah karena penyebaran kupu-kupu dipengaruhi oleh sebaran tumbuhan inang dan ekologi (Amir et al. 2003; Panjaitan 2008). Sedangkan di Hutan Ireng-Ireng Taman Nasional Bromo Tengger, Semeru didominasi oleh famili Papilionidae (Suharto et al. 2005).
Spesies kupu-kupu yang ditemukan di hutan koridor, lahan pertanian, dan perkebunan teh sebanyak 61 spesies (Tabel 2). Jumlah spesies yang ditemukan di lokasi penelitian ini lebih tinggi dibandingkan di hutan primer Danum, Sabah (30 spesies) (Tangah et al. 2004), di Taman Itapua, Brasil (41 spesies) (Marchiori & Romanowski 2006), di Gunung Tangkuban Parahu dan di Situ Lembang, Jawa Barat (23 Spesies) (Tati-Subahar et al. 2007), di Taman Nasional Rajaji, India (40 spesies) (Joshi 2007), dan di kawasan wisata Lubuk Minturun, Sumatera Barat (27 Spesies) (Rizal 2007), tetapi lebih rendah dibandingkan hasil penelitian di cagar alam Ton Nga-Chang, India (147 spesies) (Boonvanno et al. 2000), di Borneo Utara (66 spesies) (Hammer et al. 2003); di Gunung Slamet, Jawa Tengah (105 spesies) (Widhiono 2004), dan di Himalaya Barat, India (75 spesies) (Uniyal 2007).
Spesies Yphtima sp. (Nymphalidae), Eurema sp. (Pieridae) dan Delias belisama ditemukan dominan di hutan koridor, lahan pertanian, dan perkebunan teh (Gambar 13). Sreekumar dan Balakrishnani (2001) menyatakan di Kerala India, bahwa Eurema hecabe mendominasi pada ketinggian yang berbeda, karena spesies tersebut bersifat polifag. Sifat polifag Eurema hecabe menyebabkan spesies tersebut dapat berkembang pada habitat terganggu (Sreekumar & Balakrishnan 2001; Joshi 2007). Tumbuhan pakan Yphtima sp. adalah Arecaceae, Cyperaceae, dan Poaceae. Tumbuhan pakan Eurema sp. adalah Caesalpiniaceae, Fabaceae, Euphorbiaceae, Mimosaceae (Braby 2000), sedangkan tumbuhan pakan kupu-kupu Delias belisama adalah Poaceae (Peggy & Amir 2006). Spesies kupu-kupu polifag dapat berkembangbiak pada berbagai spesies tumbuhan. Larva kupu-kupu polifag lebih bertahan hidup pada kondisi keragaman tumbuhan inang yang rendah (Helmann et al. 2002). Kehadiran spesies kupu-kupu yang tinggi didukung oleh tersedianya tumbuhan sebagai sumber pakan (Yamamoto et al. 2007).
Beberapa spesies kupu-kupu ditemukan dengan frekuensi yang rendah dan hanya ditemukan pada salah satu tipe habitat. Spesies kupu-kupu dengan frekuensi rendah dan distribusi terbatas bersifat sensitif terhadap gangguan habitat (Sunduvu & Dumbuya 2008). Kerusakan habitat menyebabkan fragmentasi dan kepunahan tumbuhan sebagai sumber nektar dan inang kupu-kupu spesialis (Hardy et al. 2007).
Spesialisasi kupu-kupu terhadap tumbuhan inang berhubungan dengan faktor evolusi (fisiologis, enzim detoksifikasi kimia) (Scriber et al. 2008). Senyawa kimia sekunder yang dihasilkan tumbuhan mempengaruhi evolusi kupu-kupu fitofag (Ehrlich & Raven 1964). Senyawa kimia tumbuhan angiospermae berperan dalam keanekaragaman kupu-kupu famili Papilionidae. Kupu Papilio aegeus mempunyai kemampuan detoksifikasi senyawa sekunder yang dihasilkan oleh tumbuhan angiospermae (Scriber et al. 2007).
Konversi habitat alami menyebabkan menurunnya keragaman hayati (Sodhi et al. 2004). Kocher dan Williams (2000) menyatakan kekayaan spesies kupu-kupu secara signifikan menurun di habitat yang terganggu. Kelimpahan spesies kupu-kupu menurun pada hutan yang mengalami penebangan (Hill et al. 2003). Keragaman spesies kupu-kupu menurun akibat penebangan hutan dilaporkan terjadi di Kalimantan (Hill et al. 1995; Schulze & Fielder 1998); di Sulawesi (Fermont et al. 2005); di Ivory Cost (Fermont et al. 2000). Penyusutan dan perubahan habitat karena eksploitasi yang cepat merupakan ancaman bagi keberadaan spesies spesifik kupu-kupu di Indonesia. Terdapat hubungan keragaman kupu-kupu dengan habitatnya. Larva dan kupu-kupu dewasa tergantung pada keragaman tanaman inang. Walaupun kupu-kupu dapat bermigrasi ke daerah yang baru, namun jika sumber tumbuhan pakan larva kupu-kupu musnah, maka kupu-kupu tidak dapat melanjutkan keturunannya.
Setiap spesies kupu-kupu memilih tumbuhan inang tertentu sebagai tempat meletakkan telur (Peggie & Amir 2006). Kupu-kupu Yphytima sp. meletakkan telur pada tumbuhan Poaceae (Braby 2000), Erionota thrax Linn. pada tumbuhan Musaceae (Amir et al. 2003); Junonia hedonia (Nymphalidae) pada tumbuhan Acanthaceae dan Malvaceae, dan kupu-kupu Zizina otis pada tumbuhan Mimosaceae dan Papilionaceae (Peggie & Amir 2006).
Pada umumnya, hutan koridor mempunyai keragaman lebih besar dibandingkan di lahan pertanian dan perkebunan teh (Tabel 2). Tetapi berdasarkan jumlah individu, di lahan pertanian (2793 individu) lebih tinggi dibandingkan di hutan koridor (2664 individu), dan perkebunan teh (1575 individu). Sedangkan berdasarkan jumlah famili dan spesies kupu-kupu, di hutan koridor (tujuh famili, 53 spesies) lebih banyak dibandingkan di lahan pertanian (enam famili, 51 spesies), dan perkebunan teh (lima famili, 39 spesies).
Keragaman kupu-kupu di lahan pertanian (H’=2.79) dan di hutan koridor (H’=2.76) lebih tinggi dibandingkan di perkebunan teh (H’=2.31) (Tabel 2). Keragaman kupu-kupu di hutan koridor, lahan pertanian, dan perkebunan teh termasuk dalam kategori sedang (1 Lahan pertanian yang menggunakan sistem tumpangsari dapat meningkatkan keragaman suatu spesies (Risch et al. 1983). Sistem tumpangsari memberikan relung lebih banyak dibandingkan sistem monokultur (Russel 1989). Selain itu, keragaman spesies di lahan pertanian tinggi karena di sekitar lahan pertanian Gunung Halimun merupakan habitat alami (Rizali et al. 2002). Rendahnya keragaman di perkebunan teh disebabkan karena penggunaan herbisida dan pestisida dalam penanggulangan hama. Sparks dan Parish (1995) menyatakan keragaman kupu-kupu menurun pada daerah dengan aplikasi herbisida. Menurut Saarinen (2002), pestisida berpengaruh negatif terhadap keragaman populasi kupu-kupu. Pestisida dan herbisida dapat membunuh polinator dan tumbuhan (Steffan-Dewenter & Westphal 2008). Rendahnya keragaman kupu-kupu di perkebunan teh juga disebabkan karena perkebunan teh merupakan agrikultur modern yang bersifat monokultur. Stefanescu et al. (2004) menyatakan bahwa agrikultur modern dengan sistem monokultur menyebabkan penurunan keragaman kupu-kupu. Agrikultur modern menerapkan sistem manajemen yang intensif. Sistem manajemen yang intensif berpengaruh negatif terhadap keragaman kupu-kupu yang ditandai dengan keragaman yang rendah dan adanya spesies kupu-kupu yang dominan (Saarinen 2002). Atlieri dan Nicholls (2003) menyatakan bahwa sistem pertanian monokultur dapat mempengaruhi keragaman organism karena perluasan pertanian monokultur akan menghilangkan habitat alami. Konversi habitat alami akan menurunkan kualitas habitat, hilangnya spesies, akibat penggunaan bahan kimia, dan terjadi erosi sumber daya genetik.
Kemerataan (evenness) spesies kupu-kupu di hutan koridor, lahan pertanian, dan perkebunan teh tinggi (E=0.69, E=0.71, dan E=0.63) (Tabel 2). Nilai kemerataan yang tinggi untuk tiap habitat menunjukkan tidak ada spesies kupu-kupu yang dominan. Semakin kecil nilai kemerataan spesies, maka penyebaran spesies tidak merata dan terjadi dominasi oleh spesies kupu-kupu tertentu (Magurran 1988).
Kesamaan spesies kupu-kupu antara hutan koridor-lahan pertanian, hutan koridor-perkebunan teh dan lahan pertanian-perkebunan teh cukup tinggi, yaitu berturut-turut sebesar Cj=0.76 (Cs=0.85), Cj=0.61 (Cs=0.80), dan Cj=0.64 (Cs=0.78) (Tabel 3). Hal ini disebabkan karena beberapa spesies tumbuhan inang ditemukan di ketiga habitat tersebut. Selain itu, ketiga tipe habitat letaknya berdekatan, sehingga spesies kupu-kupu dapat melakukan aktivitas di ketiga habitat tersebut. Beberapa spesies kupu-kupu memiliki sebaran yang luas dan dapat beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang berbeda (Amir et al. 2003). Kesamaan spesies antar habitat, antara lain dapat diukur dari indeks kesamaan atau koefisien kesamaan spesies. Indeks kesamaan juga digunakan sebagai dasar dalam analisis kelompok (cluster analysis) (Magurran 1988).
Nilai estimasi kupu-kupu di hutan koridor, lahan pertanian, dan perkebunan teh mencapai 95.69% (Tabel 4). Hasil ini mengindikasikan pengamatan keragaman kupu-kupu dengan metode scan sampling dengan alat jaring adalah efektif. Hal ini berarti pengambilan contoh kupu-kupu yang dilakukan dapat menggambarkan 95.69% spesies kupu-kupu yang ada di ketiga lokasi.

B. Keragaman Kupu-Kupu Berdasarkan Waktu dan Faktor Lingkungan

Selama penelitian dari bulan Maret sampai Agustus 2008, kisaran waktu pukul 09.00-11.00 dan 13.00-13.59 WIB ditemukan kupu-kupu dengan kelimpahan tinggi (Gambar 15). Hasil penelitian ini sejalan dengan laporan Orr (1992) pada Euploea sp. di Bandar Seri Begawan, bahwa aktifitas spesies tersebut tinggi pukul 10.00-15.00. Demikian juga Marchiori dan Romanowski (2006) menyatakan di Taman Itapua, Brasil bahwa keragaman kupu-kupu tinggi pukul 11.00-11.45. Kehadiran spesies kupu-kupu berkaitan dengan pencarian pakan, perkawinan, dan oviposisi. Oviposisi Melitaea cinxia terjadi pukul 14.00-15.00 (Saastomoinen & Hanski 2008). Mcdonald dan Nijhout (2000) menyatakan aktivitas perkawinan kupu-kupu pukul 10.00-12.00 pada saat intensitas cahaya tinggi (32o-40oC) dan aktifitasnya menurun pukul 15.00 sore seiring penurunan intensitas cahaya.
Jumlah individu, spesies, dan indeks keragaman spesies kupu-kupu berbeda setiap bulannya (Gambar 15). Boonvanno et al. (2000) menyatakan bahwa keragaman spesies kupu-kupu di cagar alam Sanctuary Ton Nga Chang, Thailand tinggi pada bulan Februari, Juli, dan Desember, sedangkan keragaman terendah pada bulan Maret, April, dan September. Perbedaan keragaman kupu-kupu setiap bulan berkaitan dengan faktor lingkungan. Faktor lingkungan yang berperan dalam keberadaan dan keragaman kupu-kupu diantaranya suhu, curah hujan, cahaya, kelembaban, vegetasi, predator, dan parasit. Selain itu, musim mempengaruhi keragaman jenis dan famili yang didapatkan. Pada awal musim penghujan, ditemukan banyak tumbuhan berbunga, sehingga mempengaruhi jumlah dan spesies kupu-kupu. Jumlah individu dan spesies kupu-kupu lebih banyak ditemukan di musim penghujan daripada musim kemarau (Rizal 2007). Pozo et al. (2008) menyatakan keragaman spesies kupu-kupu tinggi pada akhir musim kemarau sampai musim penghujan dan menurun dari musim hujan sampai pertengahan musim kemarau. Curah hujan yang tinggi mempengaruhi keragaman spesies kupu-kupu (Pollard 1992). Curah hujan yang tinggi mengakibatkan kematian larva dan pupa spesies kupu-kupu (Hill et al.2003). Motta (2002) menyatakan bahwa mayoritas spesies kupu-kupu ditemukan tinggi di musim kemarau. Boonvanno et al. (2000) menyatakan populasi kupu-kupu meningkat secara signifikan pada periode suhu tinggi dan hujan rendah. Aktivitas kupu-kupu lebih rendah pada lingkungan dengan suhu rendah, hujan, dan berawan (Kocher & Williams 2000).
Hasil penelitian menunjukkan keragaman spesies kupu-kupu tertinggi terjadi pada pukul 09.00-09.59 dan terendah pada pukul 07.00-07.59 (Tabel 5). Kupu-kupu merupakan hewan poikiloterm, dimana suhu tubuh dipengaruhi oleh suhu lingkungan (Bhuyan et al. 2005; Saastamoinen & Hanski 2008). Kupu-kupu umumnya memerlukan suhu tubuh 28o-40oC (Kingsolver 1985), 35o-40oC (Smetacek 2000), 25o-41oC (Watanabe & Imoto 2003) untuk melakukan aktivitasnya. Kupu-kupu akan berjemur (basking) sebelum terbang untuk memperoleh suhu tubuh optimal (Smetacek 2000; Hirota & Obara 2000; Watanabe & Imoto 2003). Termoregulasi merupakan bagian penting dari kupu-kupu dewasa, terutama untuk spesies kupu-kupu yang hidup di habitat terbuka (Watanabe & Imoto 2003).
Hirota dan Obara (2000) menyatakan hasil penelitian di lahan pertanian di Universitas Tokyo, bahwa proses perkawinan Pieris rapae mencapai puncaknya pada suhu 24o-29oC. Pengaruh intensitas cahaya terhadap perkawinan kupu-kupu tidak konsisten antar waktu. Intensitas cahaya berkorelasi positif dengan suhu udara (Watanabe & Imoto 2003). Spesies yang mampu terbang pada suhu lebih rendah mempunyai keuntungan dalam memperoleh pakan dan dapat melakukan oviposisi lebih awal (Saastomoinen & Hanski 2008).
Keragaman spesies kupu-kupu berkorelasi negatif dengan suhu dan berkorelasi positif dengan curah hujan dan ketinggian (Stefanescu et al. 2004). Hal ini berarti semakin tinggi suhu lingkungan maka semakin rendah kelimpahan spesies kupu-kupu. Semakin rendah curah hujan dan ketinggian, semakin tinggi kelimpahan spesies kupu-kupu. Perbedaan signifikan terjadi pada jumlah individu antara habitat dengan ketinggian rendah dan tinggi (Joshi 2007). Keragaman kupu-kupu menurun seiring meningkatnya ketinggian. Panjaitan (2008) menyatakan keragaman kupu-kupu di Minyambou, Papua Barat menurun seiring meningkatnya ketinggian. Jenis tumbuhan yang berbeda di setiap interval ketinggian mempengaruhi keragaman kupu-kupu. Pada ketinggian 1000-1900 m dpl tidak ditemukan Ornithoptera goliath (Nymphalidae) karena tidak ditemukan Aristhotolocia sebagai tumbuhan inangnya (Panjaitan 2008). Menurut Joshi (2007) yang melakukan penelitian komunitas kupu-kupu di Himalaya Barat, India menyatakan bahwa ketinggian, temperatur dan gangguan habitat menurunkan keragaman kupu-kupu. Joshi dan Arya (2007) menyatakan, keragaman kupu-kupu tinggi pada habitat dengan ketinggian rendah. Komposisi tumbuhan sumber pakan kupu-kupu bervariasi berdasarkan ketinggian (Tati-Subahar et al. 2007). Habitat dengan ketinggian yang sama tetapi dengan keragaman tumbuhan berbeda akan menyebabkan perbedaan keragamaan kupu-kupu.

C. Keragaman Kupu-Kupu: Keragaman Tumbuhan, Volume Nektar, dan Konservasi Kupu-Kupu

Spesies tumbuhan yang sering dikunjungi oleh kupu-kupu dalam penelitian ini adalah cente (Lantana camara), kaliandra (Calliandra sp), pacar tere (Impatiens sp.) dan puspa (Schima wallichii) (Gambar 17). Hasil ini sejalan dengan penelitian Tati-Subahar et al. (2007) di Gunung Tangkuban Parahu, dimana spesies tumbuhan yang banyak dikunjungi oleh spesies kupu-kupu adalah Lantana camara, Calliandra sp., Impatiens sp, Schima walichii, beberapa spesies Malvaceae, rumput dan herba. Bunga Lantana camara dikunjungi kupu-kupu karena warna, aroma, nektar, dan tumbuhan pendek. Pada umumnya, kunjungan kupu-kupu (polinator) dipengaruhi oleh bentuk, panjang, warna, aroma, nektar, polen, dan beberapa reward bunga lainnya (Faheem et al. 2004). Warna bunga merupakan faktor penting bagi polinator dalam mengunjungi bunga dan mempengaruhi perilaku polinator. Bunga yang diserbuki serangga pada umumnya mengeluarkan aroma harum (floral scent) (Faheem et al. 2004). Beberapa spesies kupu-kupu termasuk generalis dan spesialis terhadap tumbuhan penghasil nektar. Grundel dan Pavlovic (2000) menyatakan bahwa Lycaeides melissa Samuelis merupakan kupu generalis tetapi dalam mengambil nektar sangat selektif pada beberapa spesies tumbuhan.
Pada penelitian ini, sekresi nektar tinggi di pagi hari dan menurun disiang hari (Gambar 18). Nektar disekresikan dengan ritme tertentu (Galetto & Bernardello 2004). Perbedaan sekresi nektar berfluktuasi berdasarkan waktu (Heil et al. 2000; Corbet 2003; Galetto & Bernandello 2004). Sekresi nektar dipengaruhi oleh suhu, kelembaban, dan kelengasan tanah (Wolff 2006).
Keragaman kupu-kupu dalam kaitannya dengan volume nektar, menunjukkan tingginya volume nektar di pagi hari tidak diikuti oleh tingginya keragaman kupu-kupu (Gambar 18). Keragaman kupu-kupu rendah ada pagi hari karena kupu-kupu memerlukan temperatur tubuh untuk terbang 28o-40oC (Kingsolver 1985), 25o-40oC (Smetacek 2000), 25o-41oC (Watanabe & Imoto 2003). Kupu-kupu bertengger dan melakukan termoregulasi ketika temperatur udara tidak mendukung terbang. Auckland et al. (2004) dan Wolff (2006) menyatakan tidak ada hubungan antara keragaman tumbuhan penghasil nektar dengan keragaman kupu-kupu. Namun Kitahara et al. (2008) menyatakan di Pegunungan Fuji, Jepang, kelimpahan kupu-kupu berhubungan dengan kelimpahan tumbuhan penghasil nektar. Nektar merupakan cairan yang mengandung gula yang menyediakan energi dan nutrisi untuk aktivitas kupu-kupu (Kevan 1999; Faheem et al. 2004). Keragaman kupu-kupu dipengaruhi juga oleh kekayaan tumbuhan nektar (Haddad & Baum 1999; Kitahara et al. 2008) dan kandungan gula nektar (Schultz & Dlugosch 1999).
Spesies kupu-kupu Thaumantis klugius Zinken (Amathusidae), Zeltus amasa Hewitson (Lycaenidae), Cirrochroa clagia, Euploea diocletianus, Euthalia adonia, dan Junonia hedonia (Nymphalidae) merupakan spesies spesifik kupu-kupu yang ditemukan dalam jumlah rendah di hutan koridor (Gambar 13). Berdasarkan hasil penelitian ini, maka perlu perhatian khusus terhadap spesies spesifik kupu-kupu agar tidak mengalami kepunahan dengan konservasi. Konservasi spesies spesifik kupu-kupu dilakukan dengan mengkonservasi tumbuhan inang. Beberapa spesies kupu-kupu meletakkan telur pada tumbuhan inang tertentu (Rizal 2007). Selain sebagai tempat telur, tumbuhan inang berfungsi sebagai sumber pakan larva kupu-kupu (Amir et al. 2003). Tumbuhan inang spesies spesifik kupu-kupu Euthalia sp. Adalah tumbuhan Asteraceae, Cucurbitacea, Dipterocarpaceae, Euphorbiaceae, Fagaceae, Melastomataceae, Moraceae, dan Rosaceae. Sedangkan kupu-kupu Junonia hedonia adalah tumbuhan Achanthaceae dan Malvaceae) (Vane-Wright & de Jong 2003). Ketersediaan tumbuhan sebagai pakan kupu-kupu dan larvanya membuat mikrohabitat yang sesuai bagi kehidupan kupu-kupu (Sukardi 2007).
Konservasi kupu-kupu yang efektif memerlukan pengetahuan tentang tumbuhan penghasil nektar sebagai sumber pakan kupu-kupu (Grundel & Pavlovic 2000). Habitat kupu-kupu dengan keragaman tumbuhan penghasil nektar yang tinggi berperan dalam keragaman kupu-kupu dewasa (Kitahara et al. 2003).
Selain dengan mengkonservasi tumbuhan inang kupu-kupu, konservasi kupu-kupu dapat dilakukan dengan tidak menangkap kupu dalam jumlah yang berlebihan dan menjaga habitat kupu-kupu. Kupu-kupu sensitif terhadap perubahan lingkungan (Scoble 1995; Kreman 1992). Bahan kimia, gas dan debu beracun dapat mengancam keberadaan kupu-kupu (Amir et al. 2003).
Tindakan konservasi kupu-kupu yang lain adalah dengan melakukan penangkaran kupu-kupu (Panjaitan 2008). Penangkaran kupu-kupu selain bertujuan untuk menjaga kelestarian spesies kupu-kupu, juga bertujuan meningkatkan taraf perekonomian masyarakat. Penangkaran kupu-kupu dapat digunakan sebagai tempat riset atau penelitian sekaligus tempat wisata.

Simpulan

Di kawasan hutan koridor TNGH-S ditemukan tujuh famili kupu-kupu, yaitu Amathusidae, Hesperiidae, Lycaenidae, Nymphalidae, Papilionidae, Pieridae dan Riodinidae. Kupu-kupu dari famili Nymphalidae ditemukan dominan. Spesies kupu-kupu ditemukan dominan di hutan koridor, lahan pertanian dan perkebunan teh secara berturut-turut adalah Ypthima sp. (Nymphalidae), Eurema sp. (Pieridae) dan Delias belisama (Pieridae) masing-masing dengan frekuensi 26.95, 14,87, dan 7.41%. Sedangkan spesies kupu-kupu yang ditemukan dalam jumlah rendah di hutan koridor adalah Thaumantis klugius Zinken (Amathusidae) 0.01%, Zeltus amasa Hewitson (Lycaenidae) 0.01%, Cirrochroa clagia (0.03%), Euploea diocletianus (0.04%), Euthalia adonia (0.04%), J. hedonia (Nymphalidae) (0.01%). Agar tidak mengalami kepunahan maka diperlukan tindakan konservasi dengan cara mengkonservasi tumbuhan inangnya di hutan koridor.
Berdasarkan waktu pengamatan, kupu-kupu ditemukan dengan kelimpahan tinggi pada pukul 09.00-11.00 dan 13.00-13.59. Hal ini dikarenakan suhu udara, temperature udara, intensitas cahaya pada saat itu mendukung aktifitas kupu-kupu. Sedangkan berdasarkan bulan pengamatan, kupu-kupu ditemukan melimpah pada bulan Juli (H’=2.67). Spesies kupu-kupu melimpah pada bulan Juli karena bertepatan dengan musim kemarau. Berdasarkan analisis PCA, faktor yang lebih berpengaruh terhadap jumlah individu kupu-kupu adalah kelembaban udara dan intensitas cahaya. Kelembaban udara yang rendah dan intensitas cahaya yang tinggi mendukung keragaman spesies kupu-kupu.
Sekresi nektar beberapa spesies tumbuhan tinggi terjadi pada pukul 07.00-09.00. Volume nektar beberapa spesies tumbuhan yang diukur, tidak bisa menggambarkan keragaman kupu-kupu secara umum.

Penelitian lanjutan tentang keragaman kupu-kupu perlu dilakukan dengan menambah pengukuran faktor lingkungan, seperti kecepatan angin, frekuensi pengukuran volume nektar, dan keragaman tumbuhan berbunga. Kecepatan angin di sekitar hutan koridor berfluktuatif sehingga berpengaruh terhadap aktifitas terbang spesies kupu-kupu. Sedangkan frekuensi pengukuran yang tinggi diharapkan dapat menggambarkan hubungan antara volume nektar dengan keragaman kupu-kupu.
Perlu adanya tindakan konservasi pada spesies kupu-kupu yang hanya ditemukan di habitat tertentu agar tidak mengalami kepunahan terutama di hutan koridor Gunung Kendeng. Besarnya ancaman berupa penyusutan dan perubahan habitat terhadap keberadaan spesies spesifik kupu-kupu, maka perlu tindakan konservasi dengan melibatkan warga sekitar.

UCAPAN TERIMA KASIH
Ucapan terima kasih disampaikan kepada Kepala Balai Taman Nasional Gunung Halimun-Salak Jawa Barat atas izin penelitian yang diberikan; Dayat Hidayat (Kewen) atas bantuan tenaga selama penelitian; Dr. Sih Kahono dan Djunijanti Peggie, M.Sc, Ph.D, selaku Staf peneliti di LIPI Cibinong atas bantuannya dalam proses identifikasi; Dr. John Tennet dari Department of Entomology, The Natural History Museum London dan Dr. Torben Larson dari Zoologisk Museum The Natural History Museum of Denmark; Dr. Clyde Imada, Research specialis Departemen of Natural Sciences/Botany, Bishop Museum Honolulu; Dr. Mamoru Watanabe atas bantuan jurnal, dan Departeman Agama Republik Indonesia yang telah memberikan beasiswa pendidikan kepada penulis.

Tidak ada komentar: